Kalau dari sini ada yang ingin jadi relawan, dipersilakan. Anggota Mafindo beragam, dari dosen, guru, ibu rumah tangga, mahasiswa, jurnalis, dan sebagainya.
Ada tiga hal yang dibahas pada sesi kali ini.
Sesi 1 membahas tentang perkembangan era digital dan banjir informasi.
Sesi 2 mengenai hoaks, motif, jenis, ciri, dan dampaknya.
Sesi 3 membahas tentang tips periksa fakta secara singkat.
Mari kita nostalgia ke era internet belum ditemukan. Media informasi saat itu sangat terbatas. Ada TV, radio, dan koran cetak.
Saya pernah mengalami juga bagaimana antrinya telepon di wartel atau telepon gunakan telepon umum yang koin. Dulu berkirim surat lewat pak pos dan menunggu berhari-hari balasannya.
Ini dulu..... sekarang......
Semua berubah. Siapa pun bisa menjadi pembuat, penyebar, dan pengguna informasi. Dulu kalau nonton acara, setel TV. Saya kecil di Cilacap, belum masuk listrik. Kalau mau nonton TV harus pakai AKI. Itu pun menumpang di tetangga.
Sekarang, semua saluran TV apa pun ada di genggaman. Bahkan banyak juga sosok-sosok yang menjadi milyarder karena mempunya channel Youtube sendiri.
Perubahan teknologi juga berdampak pada masifnya informasi yang diterima. Banyak informasi yang beredar di grup percakapan, baik informasi yang serius ataupun tidak serius. Belum lagi banyaknya grup percakapan yang kita ikuti.
Bisa jadi bagi beberapa orang situasi ini tidak nyaman. Ketika banyak informasi yang hadir pada satu waktu.
Ada beberapa situasi yang perlu kita sadari terkait dengan banjirnya informasi ini. Yaitu:
1. Era Post Truth
2. Matinya kepakaran
3. Filter bubble dan echo chamber
Selain kemudahan yang diberikan oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, ada sisi lain yang perlu jadi perhatian bersama, yaitu peredaran hoaks di masyarakat.
Mafindo sendiri melakukan pemeriksaan fakta berdasarkan laporan yang masuk. Terdapat 2.298 hoaks selama tahun 2020.
Dilihat dari temanya, politik dan kesehatan menduduki peringkat dua terbesar dibanding tema-tema lainnya. (sumber: Litbang Mafindo).
Dilihat dari saluran peredarannya, FB, WA, dan Twitter menjadi tempat dimana hoaks banyak beredar.
Itulah mengapa penting bagi kita untuk dapat membedakan mana hoaks atau bukan dengan memiliki kemampuan periksa fakta yang cukup.
Perubahan teknologi juga berdampak pada masifnya informasi yang diterima. Banyak informasi yang beredar di grup percakapan, baik informasi yang serius ataupun tidak serius. Belum lagi banyaknya grup percakapan yang kita ikuti.
Bisa jadi bagi beberapa orang situasi ini tidak nyaman. Ketika banyak informasi yang hadir pada satu waktu.
Ada beberapa situasi yang perlu kita sadari terkait dengan banjirnya informasi ini. Yaitu:
1. Era Post Truth
2. Matinya kepakaran
3. Filter bubble dan echo chamber
Era post truth ditandai dengan ketika suatu fakta diberikan, seseorang cenderung tidak menerimanya. Hal ini lebih dikarenakan emosi yang dominan dan keyakinan pribadi.
Misal, kita sudah percaya dengan si A. Ketika si B memberitahu bahwa ada fakta lain tentang A, kita akan menyangkalnya. Kita sudah yakin si A pasti benar dengan apa pun yang disampaikan
Matinya kepakaran situasi yang perlu kita waspadai. Banyak orang, terutama masa pandemi, memberikan gagasan namun bukan ahli di bidangnya.
Misal latar belakang A namun memberikan pandangan tentang bidang lainnya. Atau bukan ahli kesehatan, namun merasa paling tahu bidang kesehatan.

Ada hal lain yang perlu kita sadari, kita semua berada di gelembung-gelembung kelompok informasi. Misal, saya akan memblokir orang yang tidak sesuai dengan ide dan pemikiran saya. Dampaknya lingkaran kita terbatas pada orang-orang yang satu ide saja.
Ada istilah lainnya yaitu filter bubble dan echo chamber. Penjelasan ada pada slide.

Matinya kepakaran situasi yang perlu kita waspadai. Banyak orang, terutama masa pandemi, memberikan gagasan namun bukan ahli di bidangnya.
Misal latar belakang A namun memberikan pandangan tentang bidang lainnya. Atau bukan ahli kesehatan, namun merasa paling tahu bidang kesehatan
Kita akan masuk pada bagian kedua, mengenai apa itu hoaks, motif, jenis, ciri, dan dampaknya.
Hoaks sendiri dari asalnya sudah digunakan abad ke-17. Asal kata ‘hocus’. Hocus pocus, mirip dengan sim salabim di sulap.
Dari sisi pengertiannya, hoaks adalah infomasi yang sesungguhnya tidak benar, tapi dibuat seolah-olah benar.

Mengapa masih ada yang percaya hoaks? Banyak alasannya. Ini beberapa di antaranya:
1. Kemampuan literasi digital dan berpikir kritis yang belum merata
2. Polarisasi masyarakat
3. Belum cakap memilah informasi dan minimnya kemampuan periksa fakta
Ada banyak alasan seseorang menyebarkan hoaks. Salah satunya motif ekonomi. Ada orang-orang yang membuat situs tertentu yang isinya provokatif.
Ketika orang mengunjungi situs tersebut, maka akan mendapatkan keuntungan ekonomi (click bait). Pembuat dapat uang, kita dapat perpecahan, debat, dan sebagainya.
Ada banyak motif lain yang perlu kita waspada bersama.
Ada tujuh misinformasi dan disinformasi yang dapat disimak pada tautan di bawah ini.
Misinformasi: informasi salah, penyebarnya tidak tahu kalau itu salah. Umumnya tidak disengaja.
Disinformasi ada unsur kesengajaan.
Simak tautan di bawah ini, sumber dari Youtube Mafindo:
https://www.youtube.com/watch?v=ojCpsFhmSS0

Berikut contoh hoaks yang mungkin bapak dan ibu pernah dapat. Ada yang namanya satire atau parodi, konten palsu, koneksi yang salah.
Contoh berikutnya konten yang menyesatkan, konten yang salah, konten tiruan, dan konten yang dimanipulasi.
Apa saja ciri-ciri informasi hoaks? Sumber informasi tidak jelas, biasanya bangkitkan emosi, kelihatan ilmiah namun salah, isinya sembunyikan fakta, dan minta diviralkan.
Mafindo rekomendasikan untuk sumber informasi gunakan rujukan media kredibel atau anggota Dewan Pers. Atau sumber dari lembaga resmi terkait.
Apa dampaknya? Akan timbul perpecahan dan saling curiga antara kita. Selain itu muncul kebingungan bedakan mana yang hoaks dan bukan.
Dapat pula membuat meninggal seorang karena terlalu percaya dengan informasi yang didapat. Karena percaya hoaks akhirnya terlambat penanganan medis.
Sekarang kita masuk ke bagian terakhir, bagaimana melakukan periksa fakta singkat.
Silakan bapak ibu menonton video ini yah. Ini produksi Tular Nalar dari situs www.tularnalar.id
Video durasi lima menit dapat ditonton pada tautan di bawah ini.
https://www.youtube.com/watch?v=rX5z3PBmwtM
Setelah kita menonton tayangan tadi, saya akan berikan beberapa cara cepat untuk periksa fakta. Bisa dilihat detail pada paparan.
Jika menerima informasi melalui WA, ini caranya untuk cek hoaks.
Apabila bapak ibu ingin belajar lebih lanjut mengenai literasi digital, bisa ke www.literasidigital.id atau www.tularnalar.id Bisa juga ke youtubenya Mafindo agar tahu hoaks terkini apa saja.
Ada tiga hal yang perlu dicek fakta: narasi, foto, dan video. Kalau bapak ibu mau ikutan sesi pelatihan ini, Kelas Kebal Hoaks (KKH) Mafindo bekerja sama dengan Kominfo dan Siberkeasi. Gratis dan mendapat sertifikat. Pelatihan ini lebih detail teknis melakukan periksa fakta. Banyak praktik dan latihan. Silakan menghubungi kontak di layar. Ikuti juga IG @Siberkreasi atau @Turnbackhoaxid
Saya akhiri dengan penutup.Bahwa hendaklah bijak gunakan media digital. Apa yang kita unggah akan tinggalkan jejak. Periksa faktanya dulu.
Sesi Pertanyaan
Bagaimana cara menangkal hoaks ? Cara menangkal hoaks, pertama kita perlu skeptis atau curiga dulu atas informasi yang diterima. Tidak langsung percaya meski hal tersebut dari orang yang kita kenal. Periksa faktanya. Cara periksanya bagaimana? Ada detailnya di paparan.
Apa saja dampak positif dan negatif dari hoaks ? Bicara dampak, sejauh ini saya belum menemukan yah dampak positif hoaks. Kalaupun ada yang mendapat keuntungan materi (uang) misalnya, itu jangka pendek. Bisa berkonsekuensi hukum.
Bagaimana kita menyikapi terhadap berita hoaks? Menyikapi informasi hoaks, dengan tidak sebar semakin luas. Menunggu hasil periksa fakta atau klarifikasi dari pihak berwenang.
ya garup wa sekarang dan aplikasi banyak ,untuk membedakan Hoax dan tidak Hoax ,di lihat dari mana ?Aplikasi di Android atau Ios bisa unduh Hoax Buster Tools nya Mafindo. Atau ke situsnya Mafindo www.turnbackhoax.id Untuk WA Mafindo ada Chatbox WA, ada di slide ke-27.
supaya tidak terjadi atau ada atau tidak ada aplikasi yang bisa memberitau tentang berita xoak ?Kominfo juga punya aduan konten untuk masyarakat melapor. Selain itu Kominfo juga ada Wa Chatbox juga, seperti Mafindo.
Sekarang kan setiap pembelajaran daring tidak bisa terlepas dari gadget. Beberapa orang tua dari siswa saya itu mengeluh.Mereka sudah memproteksi hadapi anak-anaknya.Namun tetap tidak bisa terhindar dari pornografi dan itu awalnya tanpa ada unsur kesengajaan dari anak tersebut. Rata2 mereka membuka nya dari aplikasi tik tok.
Gimana caranya agar mereka tidak terkontaminasi oleh keracunan pornografi di tik tok?
Memang untuk pendekatan ke siswa atau remaja butuh seni khusus yah menurut saya. Kita kenali dulu karakteristik remaja. Remaja sukanya bagaimana pendekatannya? Apa hal yang tidak disukai remaja? Misalnya: remaja lebih suka diskusi atau ngo brol, kita gunakan pendekatan. Cenderung menutup diri ketika dina sehati.
Menurut saya, tidak ada salahnya ajak diskusi. Apa dampak positif dan negatif dari Tik tok. Apa konsekuensinya kalau terus terusan melihat misalnya. Mungkin ini bisa jadi alternatif yah.
Bagaimana caranya memberi pemahaman terhadap orang terdekat kita yang fanatik terhadap sesuatu karena termakan hoak. Memang memberikan pemahaman pada yang sudah fanatik, butuh proses. Kita perlu tahu juga, gaya dan cara yang nyaman untuk orang tersebut. Apakah perlu tatap muka misalnya.
Sejauh mana peran kita? Memberikan informasi klarifikasi saja. Sebatas itu. Nanti kalau yang bersangkutan berubah atau tidak, setidaknya sudah memberikan informasi.
Bolehkah meneruskan/menyampaikan materi ini kepada orang lain atau forum? Ini saya kembalikan ke panitia yah. Apakah materi terbatas di forum ini atau bisa ke luar.
Bagaimana cara menjelaskan kepada korban hoaks bahwa yang di sebarkan itu tidak benar, kita sering tidak tahu cara mencari pembenaran berita dari situs2 utk menangkal berita itu .yang bisa dilakukan adalah memberikan tautan atau link klarifikasi kepada yang bersangkutan. Prosesnya bagaimana? Kembali ke pendekatan yang dianggap sesuai dengan karakter yang bersangkutan.
Apakah seseorang yg biasa menyebar hoaks sudah bisa disebut mitomania apa solusi penyembuhannya
Terkait Mitomania, ini merupakan gangguan psikologis yang sifatnya patologis atau merugikan. Untuk menentukan kategori ini atau tidak, perlu asesmen psikologis khusus. Dari sisi kekacauan informasi, ada misinformasi dan disinformasi. Misinformasi unsur ketidaksengajaan. Sedangkan disinformasi ada kesengajaan. Ada lagi malinformasi, informasi yang merugikan kelompok atau individu tertentu
Saya merasa kenapa ya kalau berita dari masyarakat terhadap pemerintah disebut hoax, namun kalau sebaliknya padahal hoax tidak disebut hoax. Apakah hoax atau tidak suatu berita ukuran bakunya apa ?
Teknik mendeteksi informasi hoaks dengan amati ciri-cirinya. Apa saja ciri-ciri informasi hoaks? Sumber informasi tidak jelas, biasanya bangkitkan emosi, kelihatan ilmiah namun salah, isinya sembunyikan fakta, dan minta diviralkan.
Mafindo rekomendasikan untuk sumber informasi gunakan rujukan media kredibel atau anggota Dewan Pers. Atau sumber dari lembaga resmi terkait.
Yang mendorong seseorang sebarkan hoaks ada Ada banyak alasan seseorang menyebarkan hoaks. Salah satunya motif ekonomi. Ada orang-orang yang membuat situs tertentu yang isinya provokatif.
Ketika orang mengunjungi situs tersebut, maka akan mendapatkan keuntungan ekonomi (click bait). Pembuat dapat uang, kita dapat perpecahan, debat, dan sebagainya.
Ada banyak motif lain yang perlu kita waspada bersama.
Banyak faktor yang membuat informasi sulit dipercaya. Ini terkait dengan penjelasan Perubahan teknologi juga berdampak pada masifnya informasi yang diterima. Banyak informasi yang beredar di grup percakapan, baik informasi yang serius ataupun tidak serius. Belum lagi banyaknya grup percakapan yang kita ikuti.
Ada hal lain yang perlu kita sadari, kita semua berada di gelembung-gelembung kelompok informasi. Misal, saya akan memblokir orang yang tidak sesuai dengan ide dan pemikiran saya. Dampaknya lingkaran kita terbatas pada orang-orang yang satu ide saja.
Ada istilah lainnya yaitu filter bubble dan echo chamber. Penjelasan ada pada slide.
Bisa jadi bagi beberapa orang situasi ini tidak nyaman. Ketika banyak informasi yang hadir pada satu waktu.
Ada beberapa situasi yang perlu kita sadari terkait dengan banjirnya informasi ini. Yaitu:
1. Era Post Truth
2. Matinya kepakaran
3. Filter bubble dan echo chamber
Kita di era post truth, matinya kepakaran, dan ada filter bubble-echo chamber.
Setiap orang boleh menyampaikan opini, setuju atau tidak akan sesuatu. Namun, hal yang tidak dilupa gunakan fakta. Misal: seseorang gunakan foto tahun 2016, namun dibuat seolah-olah kejadian 2021.
Fakta tahun foto yang salah ini yang perlu diluruskan. Caranya bagaimana? Setelah kita menonton tayangan tadi, saya akan berikan beberapa cara cepat untuk periksa fakta. Bisa dilihat detail pada paparan.
Atau bisa ikuti pelatihan Kelas Kebal Hoax nya Mafindo. Ada beragam tools yang akan dipelajari.
Ada kalanya kita menemukan beberapa kiriman teman-teman di grup wa dam medsos lainnya tentang foto, video, dan berita yang masih meragukan.
1. Di mana kita mengecek fakta dari gambar , video, berita itu? Dan apakah ada kata kunci yang bisa di pakai untuk mempercepat pencarian? Ada beberapa cara sederhana yang bisa digunakan. Ada di slide ke 26. Misal kita gunakan Google Search Image untuk cek sebuah gambar. Untuk berita, lihat situsnya, media kredibel (anggota Dewan Pers) atau situs abal-abal/gratisan (wordpress, blogspot, dll).
Kita bisa cek di mesin pencarian, namun tetap perhatikan sumber link infonya. Apakah kredibel atau tidak. Untuk video, ada beberapa tools, misalnya Invid. Untuk prosesnya, video lebih kompleks. Ada pelatihan khusus untuk ini. Akan diajarkan di kelas KKH Mafindo.
2. Setelah kita menemukan nya bagaimana sebaiknya sikap kita untuk menginformasikan kesalahan informasi itu di grup sehingga tidak terjadi debat kusir. Karena biasanya mereka ini sudah fanatik dengan suatu 'kebenarannya" dan pihak lainnya "pasti salah". Sikap kita: pertama kenali dulu karakteristik grup. Kemudian buat kesepakatan bersama apa yang boleh dan tidak untuk diunggah di grup. Saya pikir ini perlu diskusi dengan admin dan anggota grupnya. Untuk cara informasikan klarifikasi, bisa dengan jalur pesan personal atau share di grup. Ini bisa disesuaikan dengan karakter anggota grup. Ketika share klarifikasi, sebaiknya hindari 'judgment' misal: kamu salah, kamu tidak benar. Sampaikan saja, saya dapat info ini dari ..... Mungkin bisa jadi pembanding.
Dari Paparan Narasumber bahwasanya Malfindo rekomendasikan untuk sumber informasi gunakan rujukan media kredibel atau anggota Dewan Pers. Atau sumber dari lembaga resmi terkait.
Pertanyaan saya sumber informasi yang bagaimana berbasis media kredibel serta bagaimana menentukan bahwa berita yang kita terima itu orisinil dan dijamin keasliannya.
Ada 2 hal perlu kita ketahui:
1. Berita, produk jurnalistik, ada UU Pers.
2. Hoax, bukan produk jurnalistik, kaitannya ke UU Ite.
Ketika kita menemukan berita (nomor 1) yang dianggap tidak benar, bapak ibu dapat mengajukan keberatan secara tertulis. Nanti media akan memberikan hak jawab dengan difasilitasi Dewan Pers. Sehingga, jika ditemukan kekeliruan, media dapat melakukan revisi atas pemberitaannya. jika nomor 2 (hoax) ini arahnya ke UU Ite yang artinya dapat konsekuensi hukum. Konten bisa dihapus, atau pelaku mendapat sanksi hukum. Jadi, tidak ada salahnya bapak ibu menyampaikan opini atau fakta ke media, jika dirasa perlu diluruskan.
Bagaimana cara membangun kesadaran untuk berpikir sebelum memposting di lingkungan sekitar kita, melihat masih banyak yang kurang peduli saat menyebarkan berita? Membangun kesadaran berpikir sebelum posting memang butuh proses panjang. Dari sisi modalitas belajar, ini di ranah afektif.
Edukasi dan sesi seperti ini misalnya, banyak menyasar arah kognitif. Untuk mengarah kesadaran atau afektif, memang perlu ada pendekatan yang lebih dalam. Misal perlu ada sesi pelatihan yang intens, praktik, dan role model dari sekitar. Saya pikir, hal paling sederhana, dimulai dari diri kita. Kita menjadi role model bagi sekitar.
Semoga ini bermanfaat dan dapat menjadi pengingat bagi diri sendiri dan sekitar agar tidak mudah terprovokasi hoax.
Cek dulu faktanya.
RESUME GMLD
GURU MOTIVATOR LITERASI DIGITAL
PERTEMUAN : 5
HARI, TANGGAL : RABU,10 NOVEMBER 2021
TEMA : STRATEGI MENANGKAL HOAKS
NARASUMBER : HENI MULYATI,M.Pd
MODERATOR : MULIADI
Kereeen, penuh warna
BalasHapus